Peribahasa

4 years ago
Posted by adica
Board Saripati
716 views
Peribahasa


Ketika kita masih sekolah, tentu kita pernah belajar tentang peribahasa bahasa Indonesia. Peribahasa yang mungkin sudah sering didengar di antaranya ialah (1) gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, (2) kasih anak sepanjang galah, kasih ibu sepanjang jalan, dan (3) menepuk air di dulang terpecik muka sendiri. Tentu saja terdapat banyak contoh lainnya yang dapat kita temukan di buku atau di internet. Hal tersebut jelas menunjukkan bahwa bahasa Indonesia memiliki peribahasa yang melimpah.

Menurut Kamus Linguistik, peribahasa merupakan penggalan kalimat yang telah membeku bentuk, makna, dan fungsinya dalam masyarakat. Oleh sebab itu, dapat dikatakan bentuk peribahasa sudah baku sehingga maknanya akan berbeda kalau susunan kalimatnya diubah. Peribahasa mempunyai beberapa fungsi, yaitu (1) menghias percakapan, (2) memperkuat karangan, (3) memberi nasihat, dan (4) mengajarkan pedoman hidup. Fungsi tersebut disesuaikan dengan maksud penutur dalam suatu pertuturan.

Peribahasa terdapat pada pelbagai bahasa. Peribahasa tersebut tentu saja mempunyai sejumlah persamaan dan perbedaan yang menarik untuk dibahas lebih detail. Nah, pada artikel ini, marilah kita membandingkan peribahasa bahasa Indonesia dan peribahasa bahasa Inggris.

Kalau kita mencermati peribahasa dari kedua bahasa tersebut, kita akan menemukan tiga perbedaan. Apa sajakah ketiga perbedaan itu?

Pertama, pada peribahasa bahasa Indonesia terdapat kosakata yang dominan berasal dari alam dan fauna, sementara pada peribahasa bahasa Inggris bersumber dari kehidupan masyarakat. Pada peribahasa Indonesia contohnya ialah (1) keluar mulut harimau masuk mulut buaya, (2) seperti katak dalam tempurung, dan (3) tak ada rotan akar pun jadi , yang dipenuhi oleh kata-kata natural, seperti rotan, katak, dan harimau . Sementara itu, peribahasa Inggris contohnya ialah a friend in need is a friend indeed, a penny saved is a penny earned, dan like father like son , yang memperlihatkan kekayaan kosakata yang berasal dari kehidupan sosial .

Kedua, peribahasa bahasa Indonesia lebih banyak berisi tentang kritik. Peribahasa tersebut di antaranya ialah (1) air susu dibalas air tuba, (2) daunnya jatuh melayang, buahnya jatuh ke pangkal , dan (3) mati harimau karena belangnya, mati kesturi karena baunya . Sebagaimana kita ketahui, kritik yang disampaikan bertujuan memberi masukan yang positif sehingga ada perbaikan yang terjadi. Ada dua cara dalam menyampaikan kritik, yaitu dengan cara kasar dan dengan cara lembut. Nah, penggunaan peribahasa merupakan cara yang lembut dalam menyampaikan kritik. Dengan demikian, orang yang dikritik tersebut dapat menerima tanpa rasa tersinggung. Sementara itu, peribahasa bahasa Inggris isinya dominan tentang nasihat. Contohnya di antaranya ialah (1) early to bed and early to rise, makes a man healthy, wealthy and wise, (2) the course of true love never did run smooth, dan (3) the course of true love never did run smooth.

Ketiga, peribahasa bahasa Indonesia lebih banyak mengajarkan soal tata krama. Tata krama mempunyai peran yang penting dalam sendi kehidupan masyarakat Indonesia. Bahkan, tata krama menjadi ajaran awal yang harus dikuasai seorang anak dalam keluarga sebelum anak tersebut bersosialisasi dengan masyarakat luar. Oleh karena itu, seperti telah dijelaskan pada poin kedua, kalau seseorang melanggar tata krama di masyarakat, orang tersebut biasanya akan dikritik dengan menggunakan peribahasa yang sesuai. Sementara itu, peribahasa bahasa Inggris lebih menekankan soal pedoman hidup. Kearifan yang terdapat dalam sebagian besar peribahasa bahasa Inggris mengajarkan cara menjalani hidup dengan baik. Dengan demikian, orang yang mempelajari peribahasa tersebut akan beroleh manfaat yang besar atas petuah tersebut.

Kalau kita mencermati ketiga perbedaan peribahasa tersebut, kita akan menemukan perbedaan cara pandang masyarakat penutur bahasa Indonesia dan masyarakat penutur bahasa Inggris dalam memahami dunia. Semua perbedaan tersebut dapat dijelaskan lewat teori Relativitas Bahasa, yang dicetuskan oleh Edward Safir dan Lee Whorf. Menurut Safir dan Whorf, penggunaan bahasa dapat memengaruhi cara pandang masyarakat atas fenomena alam dan sosial. Sebaliknya, fenomena itu pun dapat memengaruhi penggunaan bahasa di masyarakat. Misalnya saja, masyarakat Indonesia mempunyai beberapa kata yang digunakan untuk merujuk beras. Ada beberapa kata, seperti padi, gabah, beras, dan nasi, yang esensinya merujuk pada objek yang sama. Hal itu terjadi karena masyarakat Indonesia lebih banyak bermata pencaharian sebagai petani sehingga kosakata pada bidang pertanian berkembang dengan baik.

Peribahasa pun demikian karena peribahasa mencerminkan alam pemikiran masyarakat terhadap suatu fenomena. Oleh karena itu, pada saat kita mempelajari peribahasa suatu bahasa tertentu, sebetulnya kita tak hanya memahami pesan yang terdapat dalam peribahasa tersebut, tetapi juga meresapi pemikiran masyarakat tersebut. Masyarakat Indonesia, misalnya, lebih dekat dengan alam. Sudah sejak dahulu, masyarakat Indonesia memanfaatkan, mengelola, dan melestarikan alam. Oleh sebab itulah, pada peribahasanya, terdapat lebih banyak kosakata tentang alam. Pun, peribahasa bahasa Inggris, yang sebagian besar kosakatanya berisi tentang kehidupan sosial.

Walapun mempunyai perbedaan, kita harus tetap menghargai peribahasa tersebut. Alih-alih menilai peribahasa mana yang terbaik, kita sebaiknya memetik ajaran yang terdapat dalam peribahasa tersebut. Semoga petuah-petuah yang terdapat pada peribahasa tersebut memperkaya hidup kita.

20 Juni 2014