Begini Rasanya Hidup dengan Skizofrenia

4 days ago
Posted by news
5 views
Begini Rasanya Hidup dengan Skizofrenia


Jakarta, Pria ini pernah merasa yakin dirinya adalah seorang rasul. Ternyata keyakinan itu muncul akibat skizofrenia yang dialaminya. Bagaimana rasanya hidup dengan skizofrenia?

"Kebetulan nama baptis saya Yohanes Rasul. Dulu pada saat kambuh, saya selalu merasa diri saya ini adalah rasul. Saya juga merasa lahir sebagai ratu adil, satrio peningit," kisah Yohanes Rasul Iman Basuki Irianto dalam perbincangan dengan detikHealth, Selasa (21/3/2107).

Iman, begitu dia biasa disapa, mengaku keyakinan itu mulai muncul saat dirinya berusia 20 tahun. Dirinya bahkan kerap bengong dan kemudian bicara terus-menerus dengan dirinya sendiri, nyanyi sendiri dengan tidak jelas dan bahkan kalau berjalan seperti robot.

"Saat itu saya yakin sekali diri saya utusan Tuhan. Saking yakinnya, orang lain nggak bisa mengoreksi," imbuh Iman.

Ditambahkan dia, kala itu dirinya masih kuliah D3 Jurusan Bahasa Inggris di IKIP Jakarta. Suatu kali dirinya 5 hari tidak bisa tidur dan bicara tidak beraturan. Oleh keluarga dirinya dibawa ke RSPAD dan mendapat perawatan selama sebulan.

"Saya pernah disangka kemasukan setan juga. Begitu di RS, saya disuntik obat tidur dan ketika bangun saya disorientasi waktu," sambung pria kelahiran 1965 ini.

Oleh dokter saat itu Iman disebut pasca psikosa. Setelah dirawat sebulan, dirinya menjalani berobat jalan, dan saat itulah dia baru tahu dirinya mengalami skizofrenia kronis dan kambuhan.

Meski pernah meyakini dirinya rasul, namun Iman tidak menyebarluaskan apa yang diyakininya itu. Menurut dia, delusi atau waham-nya itu, pada beberapa pasien lain bisa saja disebarkan ke orang lain secara luas, misalnya melalui surat atau pamflet. Sementara Iman yang pada dasarnya seorang introvert lebih suka menyimpan wahamnya sendiri sehingga hanya orang sekitar saja yang tahu.

Baca juga:

Suatu kali ketika orang sekitar menyangkal habis-habisan bahwa dia seorang rasul, Iman merasa depresi. Ketika depresi melanda, pikiran untuk bunuh diri kerap hadir. Beberapa kali dia berhenti di fly over dan menimbang-nimbang untuk terjun bebas. Di saat yang lain, dia membawa tali ke hutan kota untuk gantung diri. Namun ketika sudah bersiap bunuh diri, akal sehatnya bekerja sehingga dia urung melakukannya.




Iman pernah hendak gantung diri Iman pernah hendak gantung diri (Foto: Ilustrasi: Zaki Alfarabi)



"Orang-orang suka nyebut 'bisikan setan'. Jadi saya berhalusinasi, seperti mendengar suara kalau saya itu nggak berguna. Tapi pas udah mau melakukan, masih bisa mikir nanti kalau saya mati gimana. Akhirnya nggak jadi. Skizo itu bukan hilang ingatan. Kita tahu apa yang kita lakukan, tapi tidak terkontrol," papar Iman.

Ketika kondisi dirinya stabil, Iman memilih berjalan-jalan di keramaian seperti di mal atau pasar. Dia hendak meyakinkan dirinya sendiri bahwa dirinya bukanlah rasul yang terkenal. Terbukti ketika berada di antara orang banyak, tidak ada satupun yang mengenalnya. Dia pun meyakinkan pada dirinya sendiri bahwa dia hanya manusia biasa, sama seperti yang lain. Keyakinan dirinya seorang rasul adalah delusi semata.

"Jadi saya berusaha tanamkan ke diri saya sendiri: saya orang biasa, saya orang biasa," sambung Iman.

Atas skizofrenia yang diidapnya, Iman harus minum obat terus-menerus. Namun di masa lalu, ketika merasa dirinya membaik, tanpa konsultasi ke dokter, dirinya menghentikan minum obat. Iman mengaku bosan harus minum obat setiap hari. Namun ketika sang ayah meninggal, itu menjadi titik perubahan Iman.

"Itu menjadi turning point bagi saya. Setelah bapak saya meninggal, saya merasa nggak bisa begini terus. Saya harus bangkit. Akhirnya saya rutin minum obat dan bergabung dengan Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI)," lanjut Iman.

Baca juga:

Dengan minum obat secara teratur, berkonsultasi ke dokter secara teratur pula dan meyakinkan diri, skizofrenia-nya bisa dikendalikan. "Dulu 1, 2, 3 tahun nggak minum obat, jadinya kumat lagi. Obat bagi skizo beda-beda tergantung parah ringannya. Kalau saya minum seumur hidup dengan dosis maintenance," terang Iman.

Saat kecil, Iman mengaku dirinya hiperaktif. Ketika dewasa, badannya sudah tidak seaktif saat masa anak-anak, akan tetapi pemikirannya masih sering sangat aktif. Dia gemar memiliki banyak ide lalu memikirkan ide-ide itu.

Iman juga mengisahkan di masa lalunya dirinya dekat narkoba. Segala hal dia pendam sendiri. Dia juga sering larut dengan membaca buku-buku filsafat yang bagi sebagian orang merupakan bacaan berat. Selain itu ayahnya juga sering dinas luar kota, sehingga dirinya kurang mendapat figur seorang ayah. "Semuanya saya simpan sendiri dan jadinya terakumulasi," ucapnya.(vit/up)

Source :
health.detik.com