Curhat ke Teman Lawan Jenis Benarkah Rentan Picu Perselingkuhan?

8 months ago
Posted by news
84 views
Curhat ke Teman Lawan Jenis Benarkah Rentan Picu Perselingkuhan?


Jakarta, Curhat alias mencurahkan isi hati kepada teman biasa terjadi. Hanya saja, ketika si teman merupakan lawan jenis, apakah benar situasi seperti ini rentan memicu perselingkuhan?

"Ya, itu akar dari perselingkuhan. Kenapa? Karena ketika kita cerita ke lawan jenis yang mungkin teman, dia kelihatan jauh lebih tenang, jauh lebih memahami kita, jadinya kita bisa berpikir kok dia jauh lebih memahami kita," tutur psikolog klinis dari Tiga Generasi, Sri Juwita Kusumawardhani MPsi., Psikolog.

"Ya iyalah wong dia nggak tinggal bareng sama kita kan. Jadi beda banget memang ketika sudah nikah, kita dan pasangan memang ketemu 24 jam, jeleknya kelihatan semua, manisnya banyak sih tapi pasti ada hal lain yang juga mesti kita tolerir. Sedangkan kalau cuma dengerin cerita kita 1-2 jam apalah artinya itu," tambah Wita, begitu ia akrab disapa saat berbincang dengan detikHealth.

Menurut Wita, memang awalnya hanya teman saja tapi dari sesi curhat tersebut, lama-lama seseorang bisa merasa nyaman. Ditambahkan Wita, banyak terjadi perselingkuhan emosi yang diawali dengan curhat kemudian merasa nyaman dan jalan bareng. Sebab, seseorang merasa si teman ini jauh lebih membuatnya nyaman dibanding pasangannya.

Berdasarkan pengalaman, Wita menceritakan ada salah satu kliennya yang tidak memperoleh apa yang ia harapkan dari sang suami. Lantas, ia pun punya teman ngobrol di mana pada awalnya, si wanita tidak terpikir untuk macam-macam. Tapi ternyata, si teman terlihat lebih dewasa, ngemong, dan bisa memenuhi kebutuhan psikologisnya hingga akhirnya wanita ini 'terjatuh' dalam masalah perselingkuhan.

Berdasarkan teori, perselingkuhan pada perempuan banyak diawali dari emosi. Sementara, pada pria perselingkuhan banyak yang diawali dari ketertarikan fisik. Tapi, menurut Wita itu tidak bisa dijadikan patokan.

"Karena banyak juga laki-laki yang awalnya karena emosi aja. Intinya kalau sudah suami istri, semuanya harus dipenuhi istilahnya dari kebutuhan seksual, emosional juga mesti dipenuhi," tambah Wita.

Dalam kehidupan berumah tangga, Wita menyarankan untuk tidak melupakan hal-hal yang terkesan sepele. Contohnya, saling memuji. Pada individu yang amat membutuhkan itu tapi dia tak mendapat itu dari pasangannya, bisa jadi ia merasa sedih dan kecewa.

"Terus misalkan ibu rumah tangga yang sudah capek, suami berpikir ya memang ini sudah tugasnya jadi nggak memuji nggak apa-apa, pastinya si istri sedih banget. Kalau suaminya berpikir yang penting sudah dikasih uang, istri kan nggak butuh uang aja," kata wanita yang juga praktik di Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia (UI) ini.






Foto: Thinkstock









(rdn/vit)

Source :
health.detik.com