Diasuh Terlalu 'Keras', Anak Cenderung Drop Out dari Sekolah

6 months ago
Posted by news
86 views
Diasuh Terlalu 'Keras', Anak Cenderung Drop Out dari Sekolah


Jakarta, Orang tua membutuhkan ketegasan agar bisa membentuk anak menjadi sosok yang disiplin. Tetapi terlalu tegas juga tak baik bagi perkembangan si anak, utamanya dalam hal pendidikan.

Hal ini diungkapkan dalam penelitian terbaru yang dilakukan University of Pittsburgh. Peneliti mengatakan, terlalu keras pada anak, sampai membentak-bentak, memukul dan menggunakan ungkapan verbal dan fisik sebagai ancaman dapat berdampak negatif pada anak.

Penelitian ini melibatkan lebih dari 1.500 siswa di Maryland yang diamati selama 9 tahun lebih, yaitu dari kelas 7 hingga menjelang lulus SMA. Masing-masing ditanya apakah mereka pernah dibentak, dipukul atau didorong oleh orang tua mereka.

Kemudian hal ini dibandingkan dengan hubungan mereka dengan teman sebaya dan perilaku negatif yang dilakukan ketika sudah lebih besar. Nyatanya anak yang mengaku pernah mendapatkan perlakuan keras dari orang tuanya cenderung menganggap teman-teman mereka lebih penting daripada mengikuti perintah orang tua atau mengerjakan PR.

Bahkan anggapan ini sudah muncul ketika mereka baru menginjak kelas 9. Mereka juga berpeluang tinggi untuk memperlihatkan perilaku berisiko saat duduk di kelas 11, seperti melakukan seks berisiko atau mengutil di toko.

Tak hanya itu, rata-rata dari mereka juga drop out dari sekolah menengah maupun perguruan tinggi. "Pada dasarnya bila Anda berada dalam lingkungan yang keras atau tidak stabil, Anda akan cenderung mencari solusi tercepat," kata peneliti, Rochelle Hentges.



Anak-anak yang menerima perlakuan seperti ini berpikir bahwa mereka tidak dicintai atau mendapatkan penolakan dari orang tuanya, sehingga mereka berupaya mencari penerimaan di tempat lain, yaitu dari teman sebaya.

"Apesnya bila mereka mendapatkan teman yang buruk. Karena Anda ingin diakui oleh teman-temannya, maka mereka cenderung melakukan berbagai hal untuk mendapatkan pengakuan itu," jelas Hentges seperti dilaporkan CNN.



Sebaliknya, bila orang tua mengurangi pola asuh seperti ini, anak akan tumbuh di dalam lingkungan yang lebih kondusif dan mendukung, sehingga mengurangi ketergantungan mereka pada teman-temannya.

"Kalaupun tidak bisa benar-benar berubah, setidaknya dengan mengurangi hal itu, maka kita dapat mencegah si anak terlibat dalam perilaku berisiko, yang kemudian mempengaruhi pencapaian akademis mereka," lanjutnya.

Kendati demikian, studi yang dilakukan Hentges tidak memastikan apakah orang tua dengan pola asuh seperti ini juga merasakan hal yang sama ketika masih kecil.

Namun riset lain mengatakan demikian, bahwasanya orang tua yang keras cenderung mengulang pola asuh orang tuanya, meski mereka berjanji untuk tidak melakukan hal yang sama pada anak-anaknya kelak.

(lll/vit)

Source :
health.detik.com