dr Elisna SpP dan Caranya Mengedukasi Pasien Lewat Banyolan

7 months ago
Posted by news
80 views
dr Elisna SpP dan Caranya Mengedukasi Pasien Lewat Banyolan


Jakarta, Memberi edukasi pada pasien bisa dilakukan dokter dengan cara yang serius ataupun lebih santai. Misalnya saja dengan mengeluarkan banyolan-banyolan seperti yang dilakukan dr Elisna Syahruddin PhD, SpP(K).

Sehari-hari, dr Elisna praktik di RSUP Persahabatan. Saat memberi edukasi pada pasiennya, ia memang menyesuaikan dengan karakter si pasien. Menurut dr Elisna, ada pasien yang serius tapi ada juga yang tidak suka 'pembawaan' dokter yang serius.

"Jadi dokternya harus gaul, he he he. Bagaimana saya mengedukasi intinya disesuaikan dengan karakter pasien dan keluarganya. Awalnya kita coba dulu dengan rileks, tapi kalau dia kesannya nggak senang atau justru menganggap enteng ya kita harus serius," kata dr Elisna saat berbincang dengan detikHealth.

Ia mencontohkan ketika pasien didiagnosis TB (Tuberkulosis) tapi ia dan keluarga terkesan ngotot menganggap itu tak mungkin karena di keluarganya tidak ada riwayat TB, maka mesti diberi edukasi dengan cara yang serius. Atau, menyampaikan sesuatu dengan serius dilakukan dr Elisna jika ada pasien yang cenderung menyembunyikan informasi, seperti sebelum periksa ke dokter ia sudah berobat ke tempat lain lebih dulu.

Menurut dr Elisna, ada perbedaan ketika menghadapi pasien, keluarga pasien, atau pasien beserta keluarganya. Jika berdua dengan pasien, biasanya sudah tercipta trust atau rasa percaya sehingga penyampaikan sesuatu dirasa dr Elisna lebih mudah. Walaupun seperti bercanda, esensi dari pesan yang ia sampaikan bisa 'mengena' di pasien.

"Kadang ada keluarganya yang ngotot begini begini begini, ya saya bilang bapak kan datang dengan penyakitnya, bukan saya yang bikin sakitnya. Tapi kalau sama pasien, berdua, biasanya lebih rileks. Jadi pasien sering merasa seperti nggak divisit. Nah, kalau dokter dirindukan untuk visit berarti kan ada trust," papar dr Elisna.




dr Elisna SpPdr Elisna SpP / Foto: Radian Nyi S




Ia mencontohkan ketika ada pasien yang menanyakan usia harapan hidupnya, dr Elisna justru meminta si pasien bertanya balik padanya berapa persen kemungkinan dr Elisna hidup besok harinya. Lho, kok begitu?

"Waktu pasien nanya balik ke saya, saya bilang kemungkinan hidup saya 50 persen. Nah, kan saya nggak sakit. Sekarang kalau nanya harapan hidup bapak berapa, ya hitung saja, kalau diobati berapa, nggak diobati berapa harapan hidupnya. Itu 'nyangkut' ke pasiennya, jadi besok dia nggak tanya-tanya lagi tuh," kata dr Elisna.

Tak hanya itu, pasien bandel juga kerap ditemui dr Elisna. Misalnya saja mereka yang sudah memiliki masalah dengan paru-parunya tapi tetap saja merokok.

"Kalau gitu saya bilang 'ya udah pak jangan tanggung rokoknya, semua lubang dipasang rokok saja, jangan cuma satu'. Setelah itu ya dia nurut, berhenti merokok," kata dr Elisna.

Dalam keseharian, dr Elisna juga memberi nomor handphone-nya pada pasien. Kadang kala, karena hubungan dengan sang dokter yang 'cair' membuat si pasien justru banyak bertanya pada dr Elisna, meski itu bukan hal emergency.

Pasien yang ditangani dr Elisna memang punya karakter bervariasi. Ada yang 'nyambung' jika diedukasi dengan cara membanyol tapi ada juga yang mesti diedukasi dengan cara serius. Walaupun, kebanyakan pasien dr Elisna lebih senang mendapat edukasi dengan cara yang santai. Terlebih, dr Elisna pun mengaku lebih enjoy jika menyampaikan edukasi dengan santai.

"Itu gaya saya, style saya dan susah mengubahnya. Apalagi saya kan memang berasal dari Sumatera, pasti ngasih tahunya to the point, nggak berbelit-belit.
Jadi menghadapi manusia itu nggak bisa satu gaya. Harus beda-beda dan itu ilmunya harus berdasar jam terbang dan berdasar karakter dokternya. Karena kan nggak bisa semua dokter ngebanyol. Malah garing nanti jadinya kalau dia ternyata nggak bisa ngebanyol," tutur dr Elisna.

Nama: dr Elisna Syahruddin PhD, SpP(K)
Tempat Lahir: Belawan
Riwayat Pendidikan:
- Pendidikan dokter umum di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (FK USU) tahun 1980-1986
- Pendidikan dokter spesialis paru di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia tahun 1992-1994 (dipending untuk melanjutkan pendidikan S3)
- Pendidikan S3 di Hiroshima University Jepang tahun 1994-1999.
- Di tahun 1999 lanjut menyelesaikan pendidikan spesilias paru di FKUI, lulus tahun 2000
Praktik
RSUP Persahabatan(rdn/up)

Source :
health.detik.com