Mengatasi 'Baper' yang Kerap Muncul Saat Menghadiri Acara Pernikahan

5 months ago
Posted by news
62 views
Mengatasi 'Baper' yang Kerap Muncul Saat Menghadiri Acara Pernikahan


Jakarta, Baper alias bawa perasaan bisa dialami seseorang, salah satunya ketika menghadiri acara pernikahan kerabat atau teman. Pertanyaan kapan 'menyusul' ke pelaminan pun kadang membuat galau.

Seperti dialami salah satu pembaca detikHealth, Zena. Wanita yang berdomisili di Surabaya ini mengatakan di daerah tempat tinggalnya, tradisi membantu acara pernikahan masih kental dilakukan. Sehingga, sering kali Zena membantu persiapan pernikahan sang teman.

"Baper banget. Kadang aku mikir 'Duh kapan ya aku nyusul dia'. Tapi memang belum waktunya kali ya, jadi disabarin aja, he he he," tutur Zena yang tahun ini genap berusia 27 tahun.

Lain lagi dengan pembaca detikHealth lainnya, Laras. Ia mengaku tak baper ketika menghadiri acara pernikahan teman atau kerabat. Namun, Laras tak menampik jika rasa ingin menyusul menikah pasti ada di benaknya. Hanya saja, Laras tahu bahwa itu tak bisa dilakukan dalam waktu dekat karena Laras sendiri memang belum siap.

"Jadi aku mikir mungkin tahun depan ya. Karena memang akunya nggak pengen cepet-cepet sih," kata Laras.

Nah, untuk mengatasi baper ketika menghadiri acara pernikahan, psikolog klinis dewasa dari Tiga Generasi, Sri Juwita Kusumawardhani M.Psi., Psikolog atau Wita menyarankan agar mencari sesuatu yang bisa membahagiakan diri sendiri. Diistilahkan Wita, jodoh sulit diprediksi, tapi jika memesan tiket untuk bepergian ke suatu tempat, itu bisa dilakukan.

"Istilahnya lakukan yang bisa kamu kontrol lah. Fokusnya memperluas network. Kalau kamu cuma meratapi diri kamu sendirian di kamar, gimana mau dapat jodoh kan. Kita bisa ikut komunitas, ya membuka diri lah. Memang sih baper mudah banget timbul apalagi kalau kebanyakan orang di sekitar sudah pada nikah," tutur Wita saat berbincang dengan detikHealth.



Baper juga bisa muncul ketika melihat kemesraan orang di sekitar. Contoh mudahnya, melihat foto tunangan atau bulan madu teman di sosial media saja bisa membuat seseorang baper. Maka dari itu, Wita menyarankan bagi yang memang merasa sangat tidak kuat melihat situasi seperti itu, 'puasa' membuka sosial media bisa dilakukan.

"Kadang ketika kita nggak tau, itu jadi enak buat kita, ya udah lakukan. Tapi orang beda ya. Ada juga yang dibalikin justru itu jadi pemicu. Yang paling penting, bahagiakan diri kita sendiri dan menerima diri kita sendiri," tambah Wita yang juga praktik di Klinik Psikologi Terapan UI ini.

Menurut Wita, membahagiakan diri sendiri dan menerima diri sendiri penting karena jika tidak memiliki itu, bisa jadi kita akan menikahi orang yang salah. Sebut saja, menikah dilakukan hanya karena ingin menikah. Wita mengistilahkan, ingatlah bahwa yang dinikahi adalah pasangan, bukan pernikahannya.

"Alasan menikah misalnya pacaran udah lama, disuruh orang tua, atau sudah umurnya nih menikah, itu bukan alasan untuk menikah. Menikah itu komitmen. Kadang orang mikirin wedding day-nya aja, bukan marriage-nya. Karena menikah sebetulnya permulaan, bukan akhir cerita hidup kita," pungkas Wita.

(rdn/vit)

Source :
health.detik.com