Menyikapi Kekasih yang Punya Sifat Pemarah

11 months ago
Posted by news
156 views
Menyikapi Kekasih yang Punya Sifat Pemarah


Jakarta, Saya adalah seorang pegawai swasta berumur 27 tahun awalnya saya memiliki teman pria yang membuat saya merasa nyaman, dia selalu ada buat saya, memberikan kenyaman yang lebih, dan keluarganya yang sangat peduli kepada saya tapi itu hanya sepenggal kisah masa lalu. Setelah dari itu saya bertemu dengan pria yang awalnya menurut saya baik ternyata pria itu terlalu reaktif.

Pria itu berbanding jauh terbalik sikapnya dengan pria yang pernah menjalani hubungan dengan saya, pria yang sekarang bersama saya terlalu cepat permarah, hal kecil bisa terlalu cepat marah, dan itu setelah menjalani pacaran dengannya selama 4 bulan.

Belum pernah ada kisah manis yang pernah saya rasakan, kalau pun ada yang manis tetapi tidak berlangsung lama. Ia adalah laki-laki yang mempunyai masa lalu yang buruk di keluarga, tapi saya percaya dia sayang dengan saya. Bagaimana saya mengikapi hal tersebut? Sedangkan saya berkeyakinan kuat jika dia pasti bisa berubah dan mempunyai mimpi untuk bisa mendampingi hidupnya?

Anggi (Wanita, 27 tahun)

Jawaban

Dear Mbak Anggi,

Di dalam pernikahan, akan ada banyak permasalahan yang lebih berat dibandingkan dengan pada saat Anda berpacaran. Jika selama pacaran saja dia mudah marah untuk hal-hal kecil dan membuat Anda tidak merasakan kisah manis sejak awal hubungan, saya tidak yakin ia akan menampilkan perilaku berbeda saat menikah kelak.

Tentu saja bukan berarti ia tidak akan berubah, hanya saja tidak ada jaminan yang jelas bahwa ia tidak akan seperti itu lagi. Keyakinan bahwa pasangan bisa menjadi lebih baik tentu saja boleh. Hanya keyakinan tersebut juga perlu dibarengi dengan adanya bukti perilaku yang menunjukkan bahwa pasangan memang mau berubah, bukan hanya sekedar kata-kata atau janji.

Yang perlu diingat adalah Anda sebagai pasangan hanya berperan untuk mendampingi dalam proses perubahan, bukan sebagai orang yang bertanggung jawab untuk membuat perubahan itu bisa terjadi. Bagaimanapun masa lalunya, pasangan adalah orang dewasa yang juga sudah mulai bisa bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri.

Kembali kepada Anda sendiri, sejauh mana Anda yakin bahwa Anda memang sudah move on dari hubungan yang terdahulu? Apa yang sebenarnya Anda cari di dalam hubungan? Karena saat ini Anda sendiri masih membandingkan pasangan dengan hubungan yang sudah berlalu. Tidak jarang ada orang yang bertahan dengan hubungan yang tidak sehat karena adanya kebutuhan untuk memiliki pasangan yang begitu besar.

Kemudian akan mengharapkan pasangan selanjutnya juga bisa memberikan hal yang sama, dan mencari pembenaran (dengan mengatasnamakan perasaan sayang, bahwa ia akan berubah, dsb) dengan bertahan pada hubungan yang tidak membahagiakan. Semoga bukan ini yang terjadi pada Anda.

Jika Anda memang masih mau bertahan, kenali lingkungannya lebih dekat lagi, entah itu keluarga atau teman-temannya. Cari tahu bagaimana ia dalam kesehariannya di mata mereka. Cari tahu apa saja yang bisa membuat ia marah dan bagaimana cara yang biasa dilakukan untuk kembali tenang. Jika Anda mengetahui ada masa lalu buruk di keluarga, cari tahu bagaimana hubungan antara kedua orang tua, bagaimana ia menghayati peristiwa tersebut, pada kasus tertentu masalah pada orang tua bisa berpengaruh pada anak dewasa mereka.

Setelah Anda sendiri mengetahui apa yang Anda harapkan dari hubungan, bagaimana hubungan tersebut dapat masing-masing dapat tumbuh dan berkembang, mendapatkan masukan dari orang lain tentang pasangan, Anda bisa menimbang lebih matang apakah Anda masih ingin meneruskan hubungan. Lebih baik tetap memiliki pertimbangan yang matang daripada Anda terjebak dalam ketidakbahagiaan seterusnya, bukan?

Wulan Ayu Ramadhani, M. Psi
Psikolog Perkawinan dan Keluarga di Klinik Rumah Hati
Jl. Muhasyim VII no. 41, Cilandak, Jakarta Selatan
Twitter: @wulanayur dan @twitpranikah
http://pranikah.org/(hrn/vit)

Source :
health.detik.com