Penjelasan Psikologi di Balik Ribuan Karangan Bunga untuk Ahok

3 months ago
Posted by news
68 views
Penjelasan Psikologi di Balik Ribuan Karangan Bunga untuk Ahok


Jakarta, Beberapa hari ini, balai kota 'dibanjiri' karangan bunga untuk Gubernur DKI dan Wakil Gubernur DKI, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dan Djarot Saiful Hidayat. Sebenarnya, apa makna dari dikirimnya karangan bunga ini?

Per Kamis (27/4) disebutkan sudah lebih dari 2.000 karangan bunga (bunga papan dan bucket) yang dikirim ke Balai Kota. Menanggapi hal ini, psikolog sosial dari Ikatan Psikolog Sosial Wahyu Cahyono, S.Psi, M.Si mengatakan pada dasarnya, manusia dalam hidupnya tidak bisa lepas dari mencari makna. Nah, makna ini diwujudkan dengan simbol dalam arti yang luas, misalnya budaya atau bahasa.

Wahyu menjelaskan, mengirim bunga dipersepsikan sebagai bentuk penghormatan. Konteksnya pun bisa beragam, baik dalam konteks bahagia atau kedukaan. Nah, penghormatan ini bisa merupakan ungkapan perhatian, terima kasih, atau kepeduliaan. Menurut Wahyu, sama halnya ketika mengirim bunga ke kekasih, ke acara pernikahan atau peresmian toko yang merupakan bentuk penghormatan.

"Tapi kalau dalam hal ini (mengirim karangan bunga untuk Ahok-Djarot) ada motif lain atau alasan lain, mungkin aja. Kalau sebagai bentuk kekecewaan, sepertinya nggak ya, karena tulisannya kan banyak yang happy. Itu ekspresi penghormatan, juga menghibur. Entah menghibur diri sendiri dan menghibur orang yang dikirimi. Kemudian bisa juga untuk menguatkan diri sendiri," terang Wahyu saat dihubungi detikHealth, Jumat (28/4/2017).

Soal ucapan di karangan bunga yang unik dan lucu, Wahyu beranggapan jika yang diucapkan hanya kalimat berbentuk template seperti 'terima kasih' atau 'thank you' saja, itu sekadar formalitas dan tidak ada keterlibatan emosional. Sehingga, kalimat lucu pada karangan bunga menurut Wahyu menjadi bentuk kreativitas yang seru. Dan bisa jadi, si pengirim ingin sesuatu yang personal dan berbeda dengan orang lain.



"Kenapa karangan bunga? Bisa karena praktis dan lazim dilakukan. Tapi, bisa saja jika ada orang yang memulai memasang semacam 'gembok cinta' seperti di beberapa negara, pagar balai kota akan penuh dengan gembok ha ha ha. Atau memasang kartu ucapan, mengirim makanan, dan lainnya, namun ini lebih repot," kata Wahyu.

Tapi bukan tidak mungkin jika mengirim bunga sudah dianggap 'biasa' dan tidak seru lagi sementara keinginan mengekspresikan dalam bentuk simbol masih kuat, akan muncul kreativitas sosial yang lain. Wahyu menambahkan, kiriman karangan bunga yang banyak bisa jadi lumrah di beberapa tempat. Tapi pada karangan bunga di Balai Kota, hal ini bisa menjadi viral.

"Tanpa data yang memadai saya tidak bisa menebak-nebak. Tapi bisa saja ini jadi unik karena ada konteks sosial politik. Secara sosial oleh sebagian orang ini adalah sesuatu yang dianggap 'baik' atau keren dan asik sehingga mudah jadi viral. Apalagi ada momentum dan konteks yang pas. Maka ketika sekelompok orang mengirim bunga dan itu mendapat perhatian luas dari media maka efek dominonya terasa sekali," kata Wahyu.

Lalu, apakah aktivitas mengirim karangan bunga ini berlebihan atau lebay? "Kalau lebih dari sebulan menurut saya lebay ya. Tapi kalau seminggu belum lebay-lah. Sama halnya kayak duka cita, ada masa berkabung seminggu, 40 hari. Tapi kalau sudah lewat dari 1.000 hari misalnya, baru berlebihan. Ini kan ekspresi biasa saja. Mungkin jadi terlihat lebay karena pemberitaannya viral," tutur Wahyu.

(rdn/vit)

Source :
health.detik.com