Saat Sakit Malaria Sempat Dikira Guna-guna dan Diobati ke Dukun

5 months ago
Posted by news
66 views
Saat Sakit Malaria Sempat Dikira Guna-guna dan Diobati ke Dukun


Jakarta, Bicara soal malaria, penyakit ini masih endemis di wilayah Indonesia bagian timur. Nah, di Halmahera Selatan, sebelumnya malaria sempat dikira guna-guna dan diobati oleh masyarakat ke dukun.

Seperti diungkapkan Kader Participatory Learning and Actrion (PLA) Kabupaten Halmahera Selatan, Saiful Hihalek, di Desa Doro, sebagian besar tanahnya merupakan rawa. Nah, sebelum tahun 2008, malaria masih banyak dialami masyarakat. Namun, kala itu kondisinya belum banyak masyarakat yang memahami soal malaria.

"Jadi sebelum tahun 2008, masyarakat sering sakit. Nah, karena banyak orang belum tahu apa itu malaria, jadilah disebut malaria itu guna-guna. Apalagi kan gejala malaria itu demam sampai menggigil, sakit kepala, disebutlah itu mereka sudah kena guna-guna," kata Saiful dalam Temu Media di Kantor Kemenkes, Jl HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (17/4/2017).

Karena belum paham soal malaria, masyarakat pun mengobati sakit yang dialami ke dukun. Bahkan, ada yang sampai melakukan ritual membakar menyan tapi karena memang sakit malaria, kondisinya pun tak membaik. Setelah tahun 2008, kader PLA mendapat pelatihan dan menyampaikan ke masyarakat bahwa yang mereka alami bukanlah guna-guna melainkan penyakit malaria yang disebarkan melalui nyamuk.


"Alhamdulillah mereka mau dikasih tahu bahwa malaria itu bentuknya begini lho. Mereka sadar kalau yang dialami itu disebabkan malaria. Kami juga jelaskan malaria itu berbahaya dan menular lewat gigitan nyamuk. Setelah itu kita bersihkan lingkungan, kita gotong royong supaya tidak ada lagi genangan air atau rawa yang bisa jadi tempat nyamuk berkembang biak," tutur Saiful.

Upaya pembersihan lingkungan yang dilakukan di antaranya membuat parit supaya aliran air lebih lancar, kemudian menimbun tanah rawa dan dijadikan lapangan bola voli. Setiap ada pertemuan rutin, Saiful dan kawan-kawannya juga rutin mensosialisasikan soal malaria. Berhasil, kini Annual Parasite Insidence (API) dikatakan Saiful turun. Dari 83 kasus per 1.000 di tahun 2008 dengan 2 kematian, kini kasusnya sudah di bawah 1 per 1.000 penduduk.




Saiful HihalekSaiful Hihalek Foto: Radian Nyi S




"Sampai saat ini, belum ditemukan kasus malaria. Di 2017 kita usulkan ke pemerintah desa untuk meningkatkan dana untuk alokasi kesehatan, terutama untuk pengendalian malaria," kata Saiful.

Hadir dalam kesempatan sama, Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes RI dr Mohamad Subuh, MPPM mengatakan selama 5 tahun terakhir, angka kejadian malaria per 1.000 penduduk atau API di Indonesia menurun yakni 1,69 di tahun 2012 menjadi 0,84 di tahun 2016. Soal eliminasi malaria, di tahun 2015 ditargetkan 225 kabupaten/kota, capaiannya 232 kabupaten kota. Kemudian di tahun 2016, target eliminasi malaria di 245 kabupaten/kota, capaiannya 247 kabupaten/kota. Di tahun 2017, ditargetkan 2017 kabupaten/kota yang mengeliminasi malaria.

"Pada 26 April mendatang, akan dilakukan penyerahan sertifikat eliminasi malaria oleh Menkes ke 7 Bupati/Walikota yaitu Pidie, Aceh Timur, Aceh Singkil, Karo, Padang Lawa, Penukal Abab Lematang Ilir, dan Luwu Utara," kata dr Subuh.

(rdn/up)

Source :
health.detik.com