Sosok Bocah di Balik Kisah Barbie Lepas Alas Kaki yang Viral

7 months ago
Posted by news
79 views
Sosok Bocah di Balik Kisah Barbie Lepas Alas Kaki yang Viral


Jakarta, Seperti anak perempuan lainnya, Korra Lam senang bermain boneka Barbie. Tapi, ada yang unik ketika Korra memainkan bonekanya itu. Tiap boneka hendak masuk ke rumah, bocah 4 tahun ini akan melepas alas kaki Barbie-nya.

Apa yang dilakukan Korra lantas diabadikan oleh sang kakak, Ivy Ho dan fotonya diunggah ke akun twitternya @ivaayz. Tak disangka, foto Barbie Korra yang mesti melepas alas kaki tiap masuk ke rumah dan jejeran alas kaki di depan rumah Barbie ini jadi viral.

"Saya hanya tertawa mendengar alasan adik saya. Dia bilang, dia melepas alas kaki Barbie-nya supaya mereka bisa seperti kami dan rumahnya selalu bersih," kata Ivy kepada Buzzfeed.

Dilaporkan Huffington Post, tradisi melepas alas kaki saat akan masuk ke rumah banyak dipraktikkan di rumah orang Asia atau Asia-Amerika. Sejak diunggah pada Minggu (12/2) lalu, foto Korra sudah di-retweet lebih dari 154 ribu kali.

Sebanyak 394 ribu netizen pun memberikan emotikon love. Sedangkan, 867 netizen mengomentari apa yang dilakukan si kecil Korra. Seperti @poly801 yang mengatakan bahwa tradisi ini amat melekat di benak Korra. Lalu, akun bernama @youna_jin juga berkomentar bahwa si kecil Korra dibesarkan dengan cara yang benar.

Terkait apa yang dilakukan Korra, psikolog anak dari Tiga Generasi Chitra Annisya MPsi., Psikolog mengatakan dalam pretend play (bermain pura-pura), anak belajar mengenai sosialisasi dan konsep norma sosial yang ia pahami dari kehidupan sehari-hari.



"Budaya atau kebiasaan sehari-hari pasti akan ikut direfleksikan di dalam kegiatan bermainnya. Oleh karena itu, penting untuk selalu mencotohkan dan membiasakan anak berperilaku baik," kata Chitra saat berbincang dengan detikHealth.

Nah, dalam hal kebiasaan melepas alas kaki di dalam rumah, orang tua dapat menjelaskan kepada anak jika di negara lain alas kaki sebaiknya tetap dipakai di dalam rumah. Chitra menambahkan, boleh juga ditanamkan kepada anak bahwa penting untuk menghargai kebiasaan negara lain yang berbeda dari kebiasaan kita sehari-hari, sama seperti menghargai kepercayaan agama lain.

"Apabila ada perilaku buruk yang terlanjur melekat pada anak, maka orang tua perlu mengajak anak berdiskusi dan mengutarakan perilaku mana yang buruk, alasan mengapa perilaku tersebut buruk dan justru perilaku baik seperti apa yang mesti dilakukan," tutur Chitra.

Ia menambahkan tradisi atau kebiasaan sehari-hari bisa dengan mudahnya melekat pada anak, bahkan sampai terbawa ketika ia main dikarenakan kebiasaan itu disukai anak, sering dilakukan, atau cukup bermakna bagi anak.



(rdn/vit)

Source :
health.detik.com