Teddy Rachmat: Mengapa Perbedaan Ditonjolkan? | Sport

11 months ago
Posted by news
143 views
Teddy Rachmat: Mengapa Perbedaan Ditonjolkan? | Sport

Teddy Rachmat: Mengapa Perbedaan Ditonjolkan?

Januari
11
/ 2017
16:35 WIB
Oleh : Lahyanto Nadie

JAKARTA - Theodore Permadi Rachmat membuka buku catatannya.“Saya tadi sempat membuat list [daftar],” ujarnya ketika menerima wawancara Bisnis di kantornya di kawasan Kuningan, Jakarta
Selatan, pada Senin (9/1/2016).

Pemilik sekaligus pendiri kelompok usaha Triputra Grup itu menyebutsejumlah nama dari buku catatannya. Semuanya nama-nama sangatdikenal di dunia bisnis di Indonesia.

T.P. Rachmat, Aminuddin Nurdin, dan Benny Subiyanto pada acara Triputra Agro Persada Group. - Triputra

Benny Subianto, kolega sekaligus kompanyonnya men jadi namapertama yang disebut. “Kami datang dari dua keluargayang berbeda, dua lingkungan yang berbeda, saya orang China, orangKatolik, Pak Benny Islam, Jawa, kok bisa akur [selama] 45 tahunsampai [Pak Benny] meninggal. Sekarang kerja sama diteruskan olehanak-anak saya dan anak-anaknya,” katanya mengawali obrolan.

Lantas, dia menyebut sejumlah perkawanan yang ‘akur’ dalam membangun usaha kendati berlatar belakang keyakinan dan etnis yang berbeda. “Sudono Salim, Djuhar Sutanto, Sudwikatmono, dan Ibrahim Risjad.Kalau enggak ada empat orang itu, belum tentu ada Salim Grup.”

Lantas, Jusuf Kalla dengan Sofjan Wanandi, serta keluarga WilliamSoeryadjaya dengan Mochammad Teddy Thohir. Semua nama itudicontohkan pengusaha yang akrab disapa T.P. Rachmat atau Teddy itu sebagai sosok yang mampu membesarkan bisnis secara bersama-samakendati memiliki latar belakang keluarga, keyakinan, dan darisuku yang berbeda.

Mengapa pesan itu begitu kuat disampaikan T.P. Rachmat? Karena dirinyamenyadari dalam waktu kurang lebih 2 bulan terakhir, Indonesiamenghadapi keadaan yang kurang menyenangkan. Perbedaan yang mengarah kepada suku, agama, dan ras (SARA), cenderung menonjol. Antarkelompokdan pribadi saling menghujat. Kebencian marak disebarkan.

Teddy ingin membawa pesan, semestinya perbedaan yang memangmewarnai Indonesia harus dihadapi dengan besar hati. Perbedaan bukansarana untuk meruntuhkan bangsa, melainkan menjadi satu semangatuntuk membangun Indonesia.

Nama-nama yang disebutnya, tidak semuanya memiliki keyakinanyang sama. Tidak semuanya pula berangkat dari keluarga dan latarbelakang ekonomi yang sama pula.

Dengan segala perjuangannya, mereka mampu membesarkan perusahaan yang dirintis bersama. “Dengan kejadian [berpulangnya] Pak Benny, saya kira ini suatu kesempatan untuk berbagi sejarah, berbagi rasa, [berbagi] pengalaman saya bersama Pak Benny,” katanya.

Dia mengaku mengenal Benny Subianto pada periode 1965—1966 saat sama-sama menempuh pendidikan di Institut TeknologiBandung (ITB). “Sama-sama nyontek lah, terus terang. Tetapi dengan sama-sama nyontek, saya tahu karakternya baik karena orang lainkalau mau nyontek ditutup-tutupi, kalau dia bagi-bagi saja, itu kantandanya orangnya suka berbagi.”

Pada 1998, Teddy direkrut oleh William Soeryadjaya, lalu dikirimuntuk belajar ke Belanda. Sepulang dari Belanda, orang pertama yangdipanggilnya adalah Benny Subianto.

“Saya masuk 1 September, dia 1 Oktober bedanya 1 bulan. Kami berdua yang mendirikan UT [PT United Tractors Tbk.]. Kalau saya pegawai nomor satu, dia [Benny] pegawai nomor dua.”

Oleh Om William, William Soerjadjaya biasa begitu disapa, keduanya diberi rumah di Jl. Juanda 3 No. 11. Rumah itu pula yang dijadikan kantor saat pagi hingga siang hari. Sementara itu, jika malam tiba dijadikan tempat menginap.

“Karena semua mulai dari nol, kendaraan juga Lambretta. Lambrettalebih murah dari vespa saat itu.”

Dengan cikal-bakal itu pula, keduanya terus bekerja sama dansukses dalam meniti karier bisnis.

Oleh majalah Forbes, Teddy T.P. Rachmat disebut sebagai salah satuorang terkaya Indonesia dengan aset sekitar US$2 miliar. Sementaraitu, aset sejawatnya Benny Subianto sekitar US$1 miliar.

“Saya berpikir, Indonesia akan lebih maju kalau kita tidakkonsentrasi kepada perbedaan dan saling menghujat. Kita konsentrasi kekerja sama.”

Tag :
Editor : Fatkhul Maskur
Source :
entrepreneur.bisnis.com